Idul Fitri Tradisi Jawa

sungkeman

Ada yang unik pada perayaan idul fitri dalam tradisi jawa. Tradisi halal bihalal dalam keluarga besar biasa dikenal dengan istilah “sungkeman”. Tradisi ini pada umumnya dilakukan di kalangan kerabat dekat saja. Inti dari acara sungkeman adalah saling minta maaf antar kerabat. Sungkeman tidak hanya dilakukan dengan berjabat tangan. Ada sejumlah prosedur tertentu yang perlu dilakukan pada acara sungkeman ini.

# Sungkem terurut dari yang dituakan.
Sungkem dilakukan secara terurut dari yang dituakan. Misal dalam keluarga besar ada Kakek, Nenek, Budhe, Om, Anak Budhe, Anak Om; maka urutan sungkeman adalah
- Budhe sungkem ke kakek, lalu ke nenek
- Om sungkem ke ke kakek, lalu ke nenek, lalu ke budhe.
- Anak budhe sungkem ke kakek, lalu ke nenek, lalu ke budhe, lalu ke om.
- dan terus mengular hingga semua anggota keluarga besar sudah sungkeman.

# Prosedur saat sungkeman.
Sungkem dilakukan dengan menundukkan kepala ke lutut kerabat yang dituakan. Berikut contoh isi kalimat yang diucapkan saat sungkeman:
“Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten atas sadaya kalepatan kula, nyuwun pangestunipun”
yang artinya
“Mengucapkan selamat hari raya, mohon maaf atas segala kesalahan saya, dan minta doa restunya”.
Biasanya, kalimat tersebut akan dijawab dengan permohonan maaf kembali dan disambung dengan do’a dari kerabat yang dituakan dan diamini oleh yang sungkem. Dan semuanya tentu tidak luput dari penggunaan tingkat dalam bahasa jawa sesuai tingkat usianya.

# Pembagian Angpau (opsional)
Angpau biasa disebut juga sebagai “salam tempel”. Biasanya pembagian angpau dilakukan setelah selesai acara sungkeman. Angpau diberikan dari orang yang telah bekerja ke orang yang belum bekerja. Jadi, meskipun sudah usia bekerja akan tetapi belum bekerja, ia boleh menerima angpau. Begitu juga sebaliknya, meskipun masih muda dan sudah bekerja, ia tidak lagi menerima angpau, dan dianjurkan memberikan angpau ke yang belum bekerja atau kerabat yang masih kecil.

Kemudian, barulah halal bihalal dilanjutkan ke tetangga. Setelah sungkeman selesai, semua keluarga kembali bergabung dan menikmati sajian lebaran yang telah dipersiapkan sebelumnya sembari bercengkerama. Dan tawa ceria yang membahana kembali mengisi ruangan keluarga. Tampak menyenangkan ya? :)

Berbagi dengan:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Google
  • E-mail this story to a friend!

About the Author

indz

A javanese girl with glasses who always try to get her dreams comes true. Has educational background at informatics ITB and really want to learn any interaction happened on the earth.

8 Responses to “ Idul Fitri Tradisi Jawa ”

  1. lebaran di jawa memang bukan hanya acara besar keagamaan, tapi lebih terasa tradisi..

    walaupun ga ikut puasa dsb, dulu waktu eyangku masih hidup, tiap lebaran pasti pulang kampung untuk sungkeman.. ^ ^

  2. Wah ternyata sudah tradisi ya *roma banget he.. :-D*
    Unik ya, semoga tradisi ini bisa kuteruskan ke generasi selanjutnya. Hehe.

  3. waktu mbahku belum meninggal, aku juga ikut prosedur2 itu ndri,tapi ada sedikit modifikasi ucapan minta maafnya pake bahasa Indonesia ajah. ga ahli soalnya :D

    *dah lama ga ketemu indz*

  4. Karena suatu hal, lebaran kmrn kami ga pake sungkeman :-(.
    Kmana aja mbak, ktmu pas wisudaan ya!

  5. Ready to argue with the themes of education-all. All the same, you can very well write about it

  6. @greta: thanks greta :)

  7. ya itulah nilai positif idul fitri di indonesia

  8. indri orang jawa jg toh ;)

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>